BUKU CERMIN — DI BALIK RASA HORMAT
Sebuah Perjalanan untuk Memahami Mengapa Kita Begitu Ingin Dihormati
Ada satu keinginan yang mungkin hampir dimiliki setiap manusia.
Kita ingin dihargai.
Kita ingin didengarkan.
Kita ingin dianggap mampu.
Kita ingin keberadaan kita diakui.
Dan tentu saja, kita ingin dihormati.
Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:
Mengapa kita begitu ingin dihormati?
Mengapa ketika seseorang meremehkan kita, luka yang ditinggalkannya terkadang jauh lebih dalam daripada yang kita bayangkan?
Mengapa sebuah kalimat yang hanya berlangsung beberapa detik bisa kita ingat selama bertahun-tahun?
Mengapa ketika usaha kita tidak dihargai, kita mulai mempertanyakan nilai diri sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah yang menjadi awal perjalanan BUKU CERMIN — DI BALIK RASA HORMAT.
Bukan Buku tentang Cara Mendapatkan Hormat
Buku ini tidak ditulis sebagai panduan agar kita menjadi orang yang disegani.
Bukan pula buku tentang bagaimana membuat orang lain menghormati kita.
Justru sebaliknya.
Buku ini mengajak kita melihat ke arah yang mungkin selama ini jarang kita lihat:
ke dalam diri sendiri.
Sebab di balik keinginan untuk dihormati, mungkin ada kebutuhan yang jauh lebih mendasar.
Kita ingin merasa berarti.
Kita ingin merasa bahwa usaha kita tidak sia-sia.
Kita ingin merasa bahwa keberadaan kita memiliki nilai.
Dan ketika seseorang meremehkan kita, mungkin yang sebenarnya terluka bukan hanya perasaan kita.
Bisa jadi, ada bagian dari diri kita yang sedang bertanya:
“Apakah aku benar-benar berarti?”
Ketika Hormat Bertemu dengan Ego
Dalam perjalanan buku ini, pembaca diajak melihat berbagai sisi manusia.
Tentang ego.
Tentang harga diri dan gengsi.
Tentang kebutuhan untuk diakui.
Tentang keinginan untuk didengarkan.
Tentang rasa sakit ketika diremehkan.
Tetapi juga tentang sebuah kontradiksi yang mungkin tidak nyaman untuk kita akui:
Kita ingin dihormati, tetapi apakah kita selalu menghormati?
Kita ingin didengarkan, tetapi apakah kita selalu mau mendengarkan?
Kita tidak suka diremehkan, tetapi pernahkah kita meremehkan orang lain?
Kita ingin dimengerti, tetapi apakah kita benar-benar berusaha memahami?
Di sinilah BUKU CERMIN mulai menjalankan perannya.
Bukan untuk menghakimi.
Tetapi untuk memperlihatkan sesuatu yang mungkin selama ini kita lewatkan.
Sebuah Cermin, Bukan Sebuah Penghakiman
Judul “BUKU CERMIN” bukan sekadar nama.
Cermin tidak pernah memaksa kita menjadi seseorang.
Cermin hanya memperlihatkan apa yang ada di hadapannya.
Begitu pula buku ini.
Pembaca tidak diajak mencari siapa yang salah.
Tidak diajak menyalahkan orang lain.
Tidak pula diajak merasa lebih baik daripada orang lain.
Pembaca hanya diajak berhenti sebentar dan bertanya kepada dirinya sendiri:
“Jangan-jangan selama ini aku juga sedang mencari sesuatu yang sama?”
Sesuatu yang bernama pengakuan.
Sesuatu yang bernama rasa berarti.
Sesuatu yang mungkin selama ini kita sebut sebagai rasa hormat.
Dari Mengejar Pengakuan Menuju Memahami Diri
Ada saatnya kita menyadari bahwa kita tidak mungkin membuat semua orang menghormati kita.
Tidak semua orang akan memahami perjuangan kita.
Tidak semua orang akan melihat kebaikan yang kita lakukan.
Tidak semua usaha akan mendapatkan tepuk tangan.
Dan itu tidak selalu berarti bahwa usaha tersebut tidak bernilai.
Mungkin justru di situlah kita belajar sesuatu yang penting:
nilai diri tidak seharusnya sepenuhnya ditentukan oleh penilaian orang lain.
Kita boleh senang ketika dihargai.
Tetapi kita tidak harus kehilangan diri ketika diabaikan.
Kita boleh menerima pujian.
Tetapi kita tidak harus hidup hanya untuk mendapatkannya.
Kita boleh memiliki harga diri.
Tetapi kita tidak perlu merendahkan orang lain untuk merasa tinggi.
Mengapa Buku Ini Ditulis?
Ruddy Minargo memiliki perjalanan di dunia penjualan, bisnis, dan edukasi.
Perjalanan tersebut mempertemukannya dengan banyak manusia, karakter, cara berpikir, pilihan, serta alasan di balik berbagai tindakan.
Dari sanalah muncul ketertarikan untuk memahami manusia bukan hanya dari apa yang terlihat, tetapi juga dari apa yang tersembunyi di balik sebuah tindakan.
Termasuk di balik keinginan sederhana:
“Aku ingin dihormati.”
Mungkin kalimat tersebut tidak sesederhana yang kita kira.
Mungkin di baliknya ada kebutuhan untuk dianggap berarti.
Dan mungkin, semakin kita berusaha memahami orang lain, semakin sering kita justru menemukan diri sendiri.
BUKU CERMIN — DI BALIK RASA HORMAT
Buku ini akhirnya menjadi sebuah perjalanan.
Dari keinginan untuk dihormati.
Menuju pemahaman tentang ego dan pengakuan.
Kemudian berhadapan dengan kontradiksi diri.
Berhenti mengejar penilaian semua orang.
Dan pada akhirnya kembali kepada satu pertanyaan:
“Apakah aku sendiri sudah memahami nilai diriku?”
Karena mungkin, setelah semua pencarian itu, kita tidak benar-benar membutuhkan dunia untuk terus mengatakan bahwa kita berarti.
Mungkin kita hanya perlu belajar mempercayainya.
Dan pada akhirnya, hormat yang paling penting dimulai dari diri sendiri.
BUKU CERMIN — DI BALIK RASA HORMAT
Ruddy Minargo
(Penulis)