Sales yang Dicari Customer: Buku untuk Sales yang Ingin Berhenti Mengejar dan Mulai Dipercaya
Ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin perlu ditanyakan oleh setiap sales:
“Apakah customer membeli karena produk saya, atau karena mereka percaya kepada saya?”
Pertanyaan ini terdengar sederhana.
Tetapi jawabannya bisa mengubah cara kita melihat dunia sales.
Karena menjadi sales bukan hanya tentang mendapatkan customer.
Bukan hanya tentang mencapai target.
Bukan hanya tentang closing.
Dan bukan hanya tentang mendapatkan komisi.
Ada sesuatu yang jauh lebih panjang dari sebuah transaksi:
KEPERCAYAAN.
Dari pemikiran itulah lahir buku:
SALES YANG DICARI CUSTOMER
12 Masalah Nyata dari Dunia Sales dan Cara Menghadapinya
Mengapa Buku Ini Dibuat?
Dunia sales penuh dengan teori.
Ada teknik closing.
Ada teknik negosiasi.
Ada teknik prospecting.
Ada teknik follow-up.
Ada berbagai formula dan strategi penjualan.
Semua itu penting.
Tetapi ketika berada di lapangan, sales sering menghadapi situasi yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit.
Customer berkata:
“Berapa harganya?”
Lalu tidak membalas.
Customer mengatakan:
“Mahal.”
Customer berkata:
“Saya pikir-pikir dulu.”
Customer membandingkan dengan kompetitor.
Customer meminta diskon.
Customer membaca WhatsApp tetapi diam.
Customer banyak bertanya tetapi tidak membeli.
Dan bahkan ketika customer sudah terlihat siap membeli, sales sendiri bisa takut melakukan closing.
Itulah realitas sales.
Bukan hanya teori.
Tetapi percakapan manusia yang penuh ketidakpastian.
Sales yang Dicari Customer Berangkat dari Masalah Nyata
Buku ini tidak dimulai dari pertanyaan:
“Teknik sales apa yang paling hebat?”
Tetapi dari pertanyaan:
“Masalah apa yang paling sering dialami sales?”
Dari sana lahir 12 bab.
Bukan 12 teori yang berdiri sendiri.
Tetapi 12 masalah nyata yang sangat mungkin pernah dialami seorang sales.
12 Masalah yang Dibahas
01 — Customer Cuma Tanya Harga
“Berapa harganya, Pak?”
Bagaimana agar percakapan tidak berhenti setelah kita mengirim harga?
Customer bertanya harga bukan berarti percakapan harus selesai.
Sales perlu belajar menjadikan pertanyaan harga sebagai pintu masuk untuk memahami kebutuhan.
02 — Customer Bilang “Mahal”
“Wah, mahal.”
Respons pertama sales sering kali:
“Saya kasih diskon, Pak.”
Padahal pertanyaan yang lebih penting:
“Mahal dibanding apa?”
Buku ini mengajak sales memahami keberatan harga sebelum buru-buru memberikan potongan.
03 — “Saya Pikir-Pikir Dulu”
Kalimat yang sering membuat sales langsung mundur.
Padahal kita belum tahu:
apa yang sedang dipikirkan?
Harga?
Kebutuhan?
Kompetitor?
Pasangan?
Waktu?
Atau kepercayaan?
Sales perlu belajar menggali apa yang belum selesai dalam pikiran customer.
04 — Chat Sudah Dibaca, Tapi Tidak Dibalas
Masalah yang sangat dekat dengan kehidupan sales saat ini.
Pesan sudah dibaca.
Tidak ada balasan.
Sales mulai panik.
Padahal:
READ tidak otomatis berarti REJECTION.
Ada cara menghadapi situasi tersebut tanpa terlihat mengejar atau mengganggu.
05 — Follow-Up Tanpa Terlihat Mengecek
Follow-up memang penting.
Tetapi pesan:
“Bagaimana Pak, jadi?”
tidak selalu membantu.
Follow-up yang baik membawa alasan baru untuk melanjutkan percakapan.
Informasi baru.
Solusi.
Jawaban.
Perbandingan.
Atau sesuatu yang memang relevan dengan kebutuhan customer.
06 — Customer Membandingkan dengan Kompetitor
“Di sana lebih murah.”
Jangan panik.
Jangan menjelekkan kompetitor.
Dan jangan otomatis masuk perang harga.
Sales perlu membantu customer melihat value, bukan sekadar angka.
07 — Customer Banyak Tanya, Tapi Tidak Beli
Customer bertanya banyak.
Sales menjawab semuanya.
Tetapi transaksi tidak terjadi.
Mengapa?
Karena:
Banyak bertanya belum tentu berarti siap membeli.
Sales perlu belajar membaca kualitas prospek dan memahami posisi customer dalam proses pembelian.
08 — Jangan Kebanyakan Ngomong
Sales memang harus mampu berbicara.
Tetapi customer juga ingin didengarkan.
Kadang sales terlalu sibuk menjelaskan produk sampai lupa bertanya:
“Sebenarnya customer ini membutuhkan apa?”
Karena:
Dengar → Pahami → Baru Berikan Solusi.
09 — Customer Minta Diskon
“Bisa kurang, Pak?”
Jangan langsung membuka kalkulator.
Cari tahu dulu:
“Apa alasan customer meminta harga lebih rendah?”
Mungkin budget.
Mungkin kompetitor.
Mungkin negosiasi.
Mungkin value belum terlihat.
Diskon bukan jawaban untuk semua masalah.
10 — Takut Closing
Customer sudah memberikan sinyal beli.
Sudah memilih.
Sudah bertanya proses.
Tetapi sales takut bertanya:
“Kita lanjut prosesnya ya, Pak?”
Takut ditolak.
Takut dianggap memaksa.
Padahal closing yang sehat bukan memaksa.
Closing adalah membantu customer mengambil langkah berikutnya.
11 — Customer Sudah Beli, Lalu Hilang
Transaksi selesai.
Sales lega.
Kemudian hubungan berhenti.
Padahal transaksi pertama seharusnya bukan akhir.
Customer bisa menjadi:
repeat customer,
referral,
pelanggan loyal,
dan sumber customer berikutnya.
Asalkan hubungan tetap dijaga.
12 — Jadilah Sales yang Dicari Customer
Inilah klimaks buku.
Tujuan akhirnya bukan:
“Bagaimana saya terus mengejar customer?”
Tetapi:
“Bagaimana customer mengingat saya ketika mereka membutuhkan sesuatu?”
Ketika customer percaya, mereka kembali.
Ketika mereka puas, mereka merekomendasikan.
Dan ketika kebutuhan muncul:
“Saya cari sales itu saja.”
Itulah posisi yang ingin dicapai.
Buku Ini Bukan Tentang Menjadi Sales yang Paling Agresif
Ada anggapan bahwa sales yang hebat harus:
banyak bicara,
aktif mengejar,
pandai membujuk,
dan tidak mudah menyerah.
Sebagian memang benar.
Tetapi ada sisi lain yang tidak kalah penting:
Sales harus mampu memahami manusia.
Customer bukan angka.
Customer bukan target.
Customer bukan sekadar nama di database.
Customer adalah manusia yang memiliki:
kebutuhan,
kekhawatiran,
budget,
pengalaman,
pertimbangan,
dan keputusan.
Customer Tidak Selalu Mencari Harga Termurah
Kalau semua customer hanya mencari harga termurah, dunia sales akan sangat sederhana.
Tinggal siapa yang paling murah.
Tetapi kenyataannya tidak begitu.
Customer juga mencari:
kepastian,
kenyamanan,
pelayanan,
kemudahan,
keamanan,
dan terutama:
KEPERCAYAAN.
Karena customer ingin merasa:
“Saya tidak salah memilih.”
Dan sales bisa membantu memberikan rasa tersebut.
Mengapa Kepercayaan Sangat Penting?
Bayangkan customer membutuhkan produk yang sama beberapa bulan kemudian.
Mereka bisa mencari dari awal.
Bisa bertanya kepada banyak sales.
Bisa membandingkan lagi.
Tetapi jika pengalaman mereka bersama kita sebelumnya sangat baik, mereka mungkin cukup membuka WhatsApp dan berkata:
“Pak, saya mau tanya lagi.”
Di situlah hubungan mulai menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada satu transaksi.
Dari Customer Menjadi Pelanggan
Ada perbedaan antara:
customer yang pernah membeli
dan
customer yang ingin kembali.
Yang kedua terjadi ketika pengalaman setelah transaksi juga baik.
Sales tidak menghilang.
Sales tetap membantu.
Sales responsif.
Sales tidak hanya muncul ketika ada promo.
Customer merasa:
“Saya tidak hanya mendapatkan produk. Saya mendapatkan orang yang bisa saya hubungi ketika membutuhkan bantuan.”
Dari Pelanggan Menjadi Referral
Customer yang puas juga bisa menjadi sumber customer baru.
Mereka bisa mengatakan:
“Kalau mau cari produk itu, hubungi sales ini saja.”
Tidak ada iklan yang lebih kuat daripada rekomendasi dari orang yang dipercaya.
Karena itu, jangan hanya mengejar referral.
Bangun pengalaman yang membuat referral layak diberikan.
Apa yang Membuat Sales Dicari Customer?
Tidak ada satu formula ajaib.
Tetapi ada beberapa kebiasaan yang sangat penting.
1. Dengarkan
Jangan hanya menunggu giliran berbicara.
2. Pahami
Cari tahu kebutuhan di balik pertanyaan customer.
3. Jujur
Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa diberikan.
4. Berikan solusi
Jangan memaksakan produk yang tidak sesuai.
5. Jangan memaksa
Customer berhak mengambil keputusan.
6. Tetap hadir
Jangan menghilang setelah transaksi.
Enam hal sederhana tersebut bisa menjadi fondasi reputasi seorang sales.
Buku Ini Cocok untuk Siapa?
Sales pemula yang sedang belajar menghadapi customer.
Sales berpengalaman yang ingin mengevaluasi kembali cara berkomunikasi.
Sales otomotif yang setiap hari menghadapi pertanyaan harga, cicilan, kompetitor, dan closing.
Sales properti yang menghadapi proses keputusan pembelian yang panjang.
Sales berbagai industri yang berhadapan dengan keberatan, negosiasi, follow-up, dan repeat order.
Sales leader atau supervisor yang ingin memahami masalah yang dialami tim di lapangan.
Dan siapa pun yang ingin memahami bahwa:
Menjual bukan hanya tentang produk.
Tetapi tentang manusia dan kepercayaan.
Apa yang Akan Didapat Pembaca?
Buku ini dirancang agar pembaca tidak hanya membaca.
Tetapi bisa langsung menghubungkan isi buku dengan pengalaman mereka sendiri.
Setiap masalah mengajak kita melihat:
Apa yang sebenarnya terjadi?
Mengapa customer merespons seperti itu?
Apa kesalahan sales yang sering terjadi?
Bagaimana cara merespons dengan lebih baik?
Apa yang bisa dilakukan setelah percakapan tersebut?
Karena tujuan buku ini bukan membuat sales hafal teori.
Tujuannya adalah membuat sales:
lebih siap menghadapi percakapan nyata.
Bukan Berhenti Mengejar, Tetapi Mengubah Cara Mengejar
Ada satu hal yang perlu diluruskan.
Buku ini tidak mengatakan:
“Jangan follow-up customer.”
Tidak.
Follow-up tetap penting.
Closing tetap penting.
Target tetap penting.
Penjualan tetap penting.
Tetapi cara kita melakukannya harus berubah.
Dari:
“Bagaimana supaya customer membeli?”
menjadi:
“Bagaimana saya membantu customer mengambil keputusan yang tepat?”
Perubahan kecil dalam cara berpikir bisa menghasilkan perubahan besar dalam cara kita berkomunikasi.
Dari 12 Masalah Menuju Satu Tujuan
Seluruh isi buku ini pada akhirnya mengarah kepada satu tujuan:
CUSTOMER PERCAYA
Ketika customer percaya:
customer lebih nyaman berkomunikasi.
Ketika pengalaman baik:
customer kembali.
Ketika mereka puas:
customer merekomendasikan.
Dan ketika kebutuhan muncul:
CUSTOMER MENCARI SALES.
Itulah filosofi utama buku ini.
Sales yang Dicari Customer Bukan Gelar
Kita tidak bisa mengklaim:
“Saya sales yang dipercaya.”
Kepercayaan bukan sesuatu yang kita berikan kepada diri sendiri.
Customer yang menentukan.
Mereka yang merasakan.
Mereka yang memutuskan apakah kita:
jujur atau tidak,
peduli atau tidak,
membantu atau tidak,
dan layak dicari kembali atau tidak.
Karena itu, menjadi sales yang dicari customer adalah hasil dari kebiasaan, bukan slogan.
Sebuah Pertanyaan untuk Setiap Sales
Setelah transaksi selesai, coba tanyakan kepada diri sendiri:
“Kalau enam bulan lagi customer ini membutuhkan produk yang sama, apakah dia akan mencari saya?”
Kalau jawabannya:
“Ya.”
Pertahankan.
Kalau jawabannya:
“Tidak tahu.”
Perbaiki hubungan.
Kalau jawabannya:
“Mungkin tidak.”
Tanyakan:
“Apa yang selama ini belum saya lakukan?”
Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi bahan evaluasi yang sangat kuat.
Karena Sales Bukan Hanya Tentang Hari Ini
Target hari ini akan selesai.
Closing bulan ini akan selesai.
Komisi akan dibayarkan.
Tetapi hubungan dengan customer bisa berlangsung bertahun-tahun.
Satu customer bisa membeli lagi.
Merekomendasikan kita.
Membawa keluarganya.
Membawa teman.
Membawa rekan bisnis.
Bahkan mungkin menjadi bagian dari perjalanan karier kita.
Karena itu, jangan hanya melihat customer dari nilai transaksinya hari ini.
Lihat juga nilai hubungan jangka panjangnya.
Pada Akhirnya, Sales Menjual Kepercayaan
Produk adalah apa yang kita tawarkan.
Harga adalah angka yang dibayar.
Tetapi kepercayaan adalah alasan customer merasa aman untuk mengambil keputusan.
Dan kepercayaan tidak bisa dibangun dengan satu kalimat.
Ia dibangun dari banyak hal kecil:
cara kita menjawab,
cara kita mendengarkan,
cara kita menghadapi keberatan,
cara kita melakukan follow-up,
cara kita closing,
dan cara kita tetap hadir setelah transaksi.
Mengapa Buku Ini Penting Dibaca?
Karena mungkin sebagian masalah dalam penjualan bukan sesuatu yang baru.
Kita sudah mengalaminya.
Kita hanya belum berhenti untuk membedahnya.
Kita pernah kehilangan customer setelah memberikan harga.
Pernah mendengar:
“Mahal.”
Pernah mendapatkan:
“Saya pikir-pikir dulu.”
Pernah melihat WhatsApp hanya dibaca.
Pernah mengejar customer terlalu sering.
Pernah kalah ketika customer membandingkan kompetitor.
Pernah memberikan diskon terlalu cepat.
Pernah takut closing.
Dan mungkin pernah lupa menghubungi customer setelah transaksi.
Buku ini mengajak kita berhenti sejenak.
Melihat kembali.
Kemudian bertanya:
“Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik?”
Jangan Hanya Menjadi Sales yang Bisa Menjual
Jadilah sales yang:
dipercaya.
diingat.
dihargai.
direkomendasikan.
Dan akhirnya:
DICARI CUSTOMER.
Karena ada perbedaan besar antara:
“Saya sedang mencari customer.”
dan:
“Customer sedang mencari saya.”
Yang kedua bukan terjadi karena keberuntungan.
Ia terjadi karena kita telah membangun sesuatu:
KEPERCAYAAN.
Penutup
Saya percaya bahwa menjadi sales bukan sekadar pekerjaan.
Sales adalah sekolah tentang manusia.
Kita belajar menghadapi penolakan.
Belajar memahami kebutuhan.
Belajar berkomunikasi.
Belajar mengendalikan emosi.
Belajar mendengarkan.
Belajar bernegosiasi.
Belajar meminta keputusan.
Dan yang paling penting:
Belajar membangun kepercayaan.
Karena pada akhirnya, customer mungkin lupa berapa kali kita menghubungi mereka.
Mereka mungkin lupa semua fitur yang pernah kita jelaskan.
Tetapi mereka akan mengingat:
“Apakah sales ini membuat saya merasa dibantu atau justru dikejar?”
Dari situlah semuanya bermula.
Bukan dari closing.
Tetapi dari kepercayaan.
Dan ketika kepercayaan itu tumbuh:
CUSTOMER PERCAYA → CUSTOMER KEMBALI → CUSTOMER MENCARI SALES
Itulah alasan buku ini hadir.
SALES YANG DICARI CUSTOMER
12 Masalah Nyata dari Dunia Sales dan Cara Menghadapinya
— Ruddy Minargo